26
Apr

Duka Palestina dalam Panel

Malam hari. Suatu waktu di desa di timur Green Zone, Palestina. Segerombol tentara Israel menggerebek rumah warga sipil Palestina. Tanpa ba-bi-bu salah satu aparat memukul seorang anak penghuni rumah. Si anak ingusan ini diminta mengakui perbuatannya melempar batu ke pemukiman Yahudi. Padahal si anak tak pernah melakukannya. Ibu si anak pun menangis (Sacco, 2008:61).

Itu segelintir adegan getir dalam panel komik Palestina Membara karya Joe Sacco. Diterbitkan Mizan, Bandung dari judul aslinya Palestine (1993). Joe Sacco sendiri adalah wartawan komik kelahiran Malta. Selain Palestina Membara, karya-karya jurnalistiknya yang lain (dalam bentuk komik juga) adalah Safe Area Gorazde (2000), Soba (1998) dan Christmas With Karadzic (1997). Ketiganya bercerita tentang perjalanan Joe ke Bosnia pada 1995-1996. Untuk karyanya Palestina Membara, Joe diganjar American Book Award 1996 (Sacco, 2008:291).

Palestina Membara bukan komik biasa (bisa disebut graphic novel untuk memberi kesan serius seperti tertera dalam cover buku). Bahkan jauh dari kesan comic (lucu). Karya Joe adalah laporan jurnalistik yang disajikan dalam bentuk gambar bercerita. Atau meminjam istilah Seno Gumira (2002) di sini komik telah beralih fungsi menjadi nama untuk suatu bahasa, yaitu bahasa komik.

Palestina Membara adalah narasi tentang kunjungan Sacco ke Palestina di wilayah pendudukan pada musim dingin 1991-1992. Seperti dijelaskan Joe Sacco dalam kata pengantar komiknya,

Buku ini tentang Intifadah pertama (Pemberontakan Palestina di Tepi Barat dan Gaza, dimulai pada 1987) menentang pendudukan Israel, yang mulai kehabisan tenaga pada saat saya berkunjung. Ketika saya menuliskan kalimat ini, Intifadah kedua sedang terjadi karena singkatnya pendudukan Israel dan semua konsekuensi dominasi satu masyarakat oleh masyarakat lain belum selesai. (Sacco,2008:xx)

Joe Sacco di sini berusaha menampilkan kebenaran dari sisi lain. Seperti dikatakannya, “Sebuah ketidakadilan sejarah sedang dilakukan terhadap rakyat Palestina” (Dikutip dari Goenawan Mohamad dalam Sacco, 2008:xxvi). Ada usaha mendehumanisasi dan menghilangkan Palestina dari muka bumi. Seperti dijelaskan Edward Said dalam pengantar buku Palestina Membara,

(…) tepat setelah Perang Juni 1967, kata “Palestina” bahkan nyaris tidak mungkin digunakan dalam diskusi umum. Saya ingat, poster-poster di luar gedung kuliah dan ceramah tentang Palestina pada masa itu meneriakkan “Tak Ada Palestina”. Pada 1969, Golda Meier juga mengeluarkan pernyataannya yang terkenal bahwa Palestina itu tidak ada. (…) Saya mencoba sekaligus memberi rakyat Palestina narasi yang selama ini secara efektif disamarkan oleh media dan juru debat yang saling bertentangan.
(Sacco, 2008:x-xi)

Terlepas dari nilai-nilai jurnalistik lawas “objektif”, jurnalisme subjektif a la Joe Sacco sebenarnya telah membongkar kekejaman militer Israel. Dan tentu saja pembongkaran ini tak mungkin dilakukan oleh media massa mainstream. Apalagi media yang disetir oleh pemilik Yahudi.

Karya tangan Joe Sacco mampu menggambarkan muka-muka sayu (kadang dengan bekas luka) narasumbernya yang warga Palestina, baik tua-muda –seolah ingin menegaskan kelelahan dan penderitaan mereka karena pendudukan yang terus berlangsung dari generasi ke generasi-. Serta jitu menangkap ekspresi garang para tentara Israel dan pemukim yang gemar menenteng senapan UZI kemana-mana.

Komik Palestina Membara dan Perubahan Sosial
Di kamp pengungsi di Rafah Palestina narasumber Sacco, seorang Ibu berwajah muram menggugat wartawan komik itu. “Apa gunanya saya berbicara dengan kamu?” katanya. “Saya sudah sering diwawancarai bahkan oleh televisi Israel” lanjut dia. Belum sempat menjawab, si ibu yang kehilangan dua anaknya karena ditembak mati tentara Israel ini mencecar Joe, “Ada hasilnya tidak? Kami mau negara kami, kemanusiaan kami, kami manusia juga!”. Pertanyaan yang bertubi-tubi itu ditutup dengan (lagi-lagi) pertanyaan si ibu, “bagaimana kata-kata bisa mengubah keadaan?” (Sacco, 2008:242-243).

Joe mati kutu. Dia tak bisa menjawab. Betapa berat pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab sendiri “hanya” oleh jurnalis macam dia. Joe tak menjamin, komiknya akan berdampak positif atau tidak.

Setelah terbit pertama kali di AS secara serial di tahun 1993-1995 (dengan semangat underground comics), Palestine mendapat kecaman dari beberapa pihak. Joe Sacco dinilai terlalu menyudutkan militer Israel. Benarkah seperti itu? Tidak juga.

Dalam laporan Time, ia mewawancarai kedua belah pihak dengan sangat seimbang; dan dalam salah satu edisi Palestine diperlihatkannya bagaimana seorang serdadu Israel, seorang Yahudi- Amerika bertugas di Ansar III (kamp tahanan yang menjadi “sekolah” para anggota pergerakan) ternyata membangun hubungan akrab dengan para tahanan. (Adjidarma, 2002)

Betapa komik bukan barang remeh lagi. Ia adalah bagian dari budaya manusia. Komik karya Joe Sacco justru lebih mampu menangkap realita yang terjadi daripada media mainstream lainnya. Laiknya penyair yang peka menangkap kejadian sepele di sekitarnya. Tapi medium ini bukan berarti mengukuhkan dirinya “lebih unggul” dibanding media lain. Karena, mengutip Seno Gumira,

Tidak satu bahasa pun akan mampu menggantikan bahasa lain, maupun media satu menggantikan media lain, karena secara timbal balik setiap bahasa dari setiap media membangun unikumnya sendiri, meski sama-sama diabdikan kepada satu hal: komunikasi antarmanusia (Adjidarma, 2002).

Daftar Pustaka
Buku
Sacco, Joe. 2008. Palestina Membara: Duka Orang-Orang Terusir. Bandung: Mizan.
Artikel
Adjidarma, Seno Gumira. 2002. Palestine atawa Jurnalisme Komik. AIKON edisi Februari 2002.

Bookmark and Share
26
Apr

Insiden Priok

14 April 2010. Selepas subuh, warga Koja di sekitaran Tanjung Priok, Jakarta Utara bentrok dengan Satpol PP. Gara-garanya, penduduk setempat tak terima makam leluhurnya akan digusur PT Pelindo II. Meski secara hukum, PT Pelindo terhitung sah melakukan hal tersebut.

Warga naik pitam karena sasus akan digusurnya makam Mbah Priok atau Habib Hasan bin Muhamad al Hadad. Ia seorang suci penyiar Islam pertama di Betawi, yang sudah dimakamkan di sana sejak tahun 1756 (Kompas, 16/04/10).

Konflik tak terhindarkan, korban jiwa berjatuhan. Tiga tewas semuanya anggota Satpol PP. Sementara, ratusan lain luka-luka. Massa juga membakar sejumlah mobil polisi dan menjarah. Peristiwa nahas itu berlangsung selama dua hari (14-15 April 2010). Dan media merekam semuanya.

Untuk mencegah konflik semakin berlarut, beberapa tokoh dan pejabat negara urun bantu. Sebutlah Habib Rizieq (Forum Pembela Islam), Fauzi Bowo (Gubernur DKI Jakarta) bahkan Presiden SBY ikut turun tangan.

Fokus tulisan ini akan menganalisa bagaimana konflik terjadi dilihat dari konsep dan teori konflik. Seperti identitas kultural dan miskomunikasi. Kemudian pada bagian selanjutnya akan dijelaskan tawaran resolusi dalam menyelesaikan konflik Priok.

Identitas Kultural
“As we are socialized, we learn to honor and respect the values and procedures fundamental to our own common culture” (Kimmel dalam Deutsch dkk, 2006:628). Dalam kasus ini, warga Koja punya keterikatan emosi dan sejarah dengan sosok Mbah Priok yang melegenda.

Meski sejak 1997 sebenarnya kerangka Mbah Priok telah dipindah pemda ke pemakaman umum, warga sekitar tetap menganggap “makam” tersebut sebagai tempat sakral yang harus dihormati (Tempointeraktif.com, 15/04/10).

Sikap inilah yang juga disebut sebagai primordial sentiments. ”The social actualities of language, ethnicity, customs and traditions, religion, race, and region evoke existential feelings or emotions called primordial sentiments (see Shils, 1957) during each individual’s enculturation” (Kimmel dalam Deutsch dkk, 2006:628). Tak heran, dengan keyakinan itu warga Koja mati-matian mempertahankan makam Mbah Priok dan wilayahnya dari Satpol PP.

Miskomunikasi
Kemungkinan besar sebuah konflik disebabkan adanya miskomunikasi dari salah satu pihak. Tak terkecuali dalam kasus Priok. “Attribution errors make misunderstandings likely among those with different subjective cultures, especially during political conflicts” (Kimmel dalam Deutsch, 2006:629).

Dalam insiden Priok, bentrokan bukan berakar dari aparat Satpol PP yang represif atau warga yang anarkis, tetapi ada jembatan komunikasi yang terputus antara pemerintah daerah dan warga (Kompas, 16/04/10).

Sementara di beberapa media, pihak pemerintah kota (pemkot) menyatakan bahwa upaya penertiban adalah untuk memperindah dan mempercantik wilayah makam. Namun, info yang sampai ke telinga warga adalah pembongkaran makam sehingga mengundang reaksi negatif dari warga (Kompas, 16/04/10).

Bentuk Konflik Priok

Concern for self

Concern for others

Low

High

High

Aggression

Cooperation

Low

Withdrawal

Capitulation

Sumber: Frederic R. Pearson dan Marie Olson Lounsbery (2009) mengutip Hauss (2001) yang mengadaptasi dari Miall et. al (1996:6)

Kedua belah pihak, dalam hal ini warga Koja dan Pemprov DKI Jakarta (Satpol PP hanya sebagai apparatus-nya) sama-sama memiliki tingkat concern for self tinggi dengan tingkat concern for others rendah. Dan mengakibatkan konflik jenis aggression.

Seperti yang telah terjadi, Pemerintah DKI nekat mengerahkan Satuan Polisi Pamong Praja untuk mengusir penduduk yang mempertahankan makam dan lahan sekitarnya (Tempointeraktif.com, 15/04/10). Warga Koja kemudian melihat ini sebagai tindakan yang mengancam eksistensi mereka. Otomatis, mereka mempertahankan makam dan wilayah mereka dengan mati-matian. Akhirnya, tiga korban tewas jatuh dari Satpol PP. Sementara ratusan lainnya luka-luka.

Tawaran Resolusi Konflik: Capacity Building Approach (CBA)
Terkadang dialog antarpihak yang bertikai sebagai tawaran jalan keluar tak selalu meninggalkan kisah sukses atau win-win solution bagi kedua pihak. “Often, however, people embroiled in conflict do not want to meet” (Barsky dalam Sandole, 2009:215).

Maka, untuk menghindari hal itu, penyelesaian konflik Priok bisa dimulai dengan pendekatan Capacity Building Approach (CBA) buat kedua pihak. “A capacity-building approach can be used as a prelude to a full range of collaborative CR (Conflict Resolution) processes, including negotiation, mediation, family group conferencing, healing circles, and public discussions. It may be used with one, some, or all of the parties involved in the conflict. In some cases, the process of building capacity in just one party leads to successful resolution of the conflict, with little or no need for further professional intervention” (Barsky dalam Sandole, 2009:215).

Setali dengan Dosen Sosiologi Unsoed, Sulyana Daldan, “coba jika yang datang pada waktu itu adalah para pengambil kebijakan dengan benar-benar memosisikan sebagai pelayan warga, berkunjung untuk berdialog dengan warga, mungkin sambutan warga pun akan lain” (Kompas, 16/04/10). Ya, dan tidak perlu menunggu jatuhnya korban untuk memutuskan sikap/kebijakan.

———————————————————–
Daftar Pustaka
Deutsch, Morton dkk. 2006. The Handbook of Conflict Resolution, Theory and Practice, Second Edition. San Fransisco: Jossey-Bass.
Sandole, Dennis J. D (editor). 2009. Handbook of Conflict Analysis and Resolution. New York: Routledge.

Internet
Dari Cina Benteng ke Mbah Priuk: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/16/04472395/dari.cina. benteng.ke.mbah.priuk. Tanggal Akses: 15 April 2010.

Menyesalkan Insiden Priok.http://www.tempointeraktif.com/hg/opiniKT/2010/04/15/krn.20100415. 197124.id.html. Tanggal Akses: 15 April 2010.

Titah yang Membawa Bencana.http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/16/04483583/titah.yang. membawa.bencana Tanggal Akses: 15 April 2010.

Bookmark and Share
12
Apr

Mengenal Euro-Comics (Studi Kasus: Tintin – The Broken Ear)

Terma “comic” tidak dikenal luas di Eropa utamanya di luar negara-negara Anglophone (negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu). Prancis misalnya memakai istilah bande desinee yang memiliki arti sama dengan komik bersambung yang dimuat dalam surat kabar (Bonneff, 2008:9).

Bahkan Jerman dan Spanyol (Iglesia, 2007) menyerap sebutan “comic” dari bahasa Inggris-Amerika –yang memang merupakan asal-usul kata itu-. Karena bahasa ibu kedua negara tersebut tak memiliki istilah yang pas untuk menyebutnya.

Komik Eropa atau biasa dikenal Euro-comics bermula sejak penemuan gambar-gambar kuno di Gua Lascaux dan Permadani Bayeux (1066). Keduanya bisa ditemui di Prancis. Namun peneliti Marcel Bonneff justru enggan terburu-buru menyebut kedua penemuan itu sebagai bentuk arkais dari komik (Bonneff, 2008:16).

Dari Tiga Maestro sampai ke Boy-scout Hero
Setidaknya ada tiga nama yang dianggap sebagai peletak dasar Euro-comics. Mereka adalah Rudolph Toppfer (1799-1846) dari Swiss, Wilhem Busch (1832-1908) yang asli Jerman dan Emmanuel Poire (1859-1909) asal Prancis. Toppfer bahkan dilabeli sebagai bapak komik modern (McCloud, 2008) dan patron saint oleh maestro komik Art Spiegelmann (Michigan, 2008).

Yang menarik adalah kemunculan Euro-comics dipengaruhi comic-strips Amerika Serikat. Wilhem Busch mengaku komik strip buatannya, Max und Moritz terinspirasi dari cartoon strips Katzenjammer Kids milik Rudolph Dirks –juga orang Jerman- di majalah AS, The New York Journal pada tahun 1897. Meski saat itu orang Jerman terbukti punya sumbangsih besar bagi perkomikan dunia, komik tak begitu populer di sana (Harms, 2009).
1929. Tintin di Tanah Soviet karya Herge (Georges Remi) terbit di Le Petit Vingtieme, di halaman suplemen kanak-kanak mingguan Vingtieme Sicle di Belgia (Ajidarma, 2009). Diikuti komik cowboy classic terkenal, Lucky Luke ciptaan Maurice de Bevere (Morris) yang luncur perdana tahun 1946.

Cemas dengan kemungkinan masuknya budaya Amerika yang liberal dan komunis Rusia, Prancis pada tahun 1949 membuat undang-undang yang membatasi peredaran buku dan komik strip bagi warganya. Isinya melarang komik dan bacaan anak-anak yang menggambarkan kemalasan, kebohongan, kejahatan, kebencian, kejelekan, seks, dan segalanya yang masuk klasifikasi “tidak bermoral” (The Economist, 2008:81).

Sementara pada tahun 1950, peraturan larangan bertambah lagi. Yaitu mengharamkan, “…odd alliance of Communists, Catholic conservatives and jobless French cartoonists, determined that French children should be reading works imbued with ‘national’ values”(The Economist, 2008:81). Pada tahun yang sama, di Jerman terjadi gerakan Anti-komik (Harms, 2009). Sementara di Inggris, komik strip Dan Dare yang ber-genre science fiction terbit di mingguan Eagle.

Dampak aturan itu, komik seperti Tintin mau tak mau harus mengikuti “aturan moral” yang diminta Prancis. Meski Tintin berasal dari Belgia. Produk hukum itu juga “menyarankan” komik pahlawan ideal adalah yang memiliki, “…an overgrown boy scout, whose adventures involve pluck, fair play, restrained violence and no sex” (The Economist, 2008:81). Maka inilah yang akhirnya ikut membentuk karakter a la pramuka yang kelewat matang pada diri Tintin (Ajidarma, 2009).

Bahkan karakter Tintin yang khas itu sebisa mungkin tidak boleh diubah. Tidak heran Fanny, janda Remi sempat merasa khawatir jika Hollywood jadi menggarap Tintin ke layar lebar –rencana 2011 akan tayang-. Sifat yang “sangat Eropa” dari reporter berjambul itu, prediksinya bakal dipermak habis-habisan. Karena menurut dia, “The American style of telling a story threatens that European ‘sensibility’ “ (The Economist, 2008:81). Naratif Amerika disebutnya sangat dinamik, tetapi lebih mengandung kekerasan dan kecepatannya jauh lebih agresif (Ajidarma, 2009).

Munculnya Franco-Belgian dan Potret Amerika dalam Euro-comics
Memasuki tahun 1960-an setidaknya ada dua gerakan besar di dunia Euro-comics. Pertama, hubungan erat Prancis-Belgia dalam dunia perkomikan akhirnya melahirkan satu tradisi budaya komik Franco-Belgian (Iglesia, 2007:333-334). Di antaranya yang termasuk: Tintin (Herge), Lucky Luke (Morris), Asterix the Gaul (Gozcinny & Uderzo), Smurf (Peyo), Spirou (Jije & Franquin), dan Blueberry (Moebius).

Kedua, pasca-Perang Dunia Ke II banyak kartunis Eropa melanggar pakem Euro-comics. “These artists reject both the traditional form and content of comic books (hardcover, full-colour ‘albums’ of humour or adventure stories, generally geared towards children), seeking instead to instill the medium with experimental and avant-garde tendencies commonly associated with the visual arts” (Beaty dalam Tim O’Shea, 2008). Pemikiran ini tidak lepas dari pengaruh Amerika Serikat.

Hal ini terlihat pada Euro-comics Blueberry (Moebius) dan Lucky Luke (Morris). Keduanya berkisah hal yang sama: kehidupan koboi di Amerika Serikat. Begitu juga di Jerman. “Many German comic series of the post-war period seemed rather old-fashioned and frumpy compared to comics from the USA, whose super heroes had sometimes been hardened in battle against the Nazis” (Harms, 2009). Pada tahun 60-an, gerakan komik bawah tanah (underground comics) mulai bermunculan di Eropa. Hal yang sama juga sedang terjadi di Amerika.

Melihat pengaruh ini, Herve St-Louis (2009) mengibaratkan hubungan Eropa-Amerika semacam benci tapi cinta (love-hate relationship). Di satu kesempatan mereka menolak total pengaruh Amerika –seperti yang Prancis dan Jerman lakukan pada tahun 50-an dalam upaya membendung pengaruh AS-, tapi di sisi lain mereka iri dengan AS yang begitu liberal, begitu bebas. Amerika bisa dikatakan European’s dreams.

Hubungan “absurd” itu yang akhirnya menyebabkan dunia komik dua benua itu semakin mirip. Seperti dikatakan Scott McCloud (2008), seni dan kesusastraan tradisional Barat (Eropa-Amerika) memiliki kecenderungan budaya yang terpaku pada tujuan akhir. Tak cuma itu bahkan, “European and the North American comic cultures, primarily concerning disparities in format and the market (e.g., most recently, Beaty, 2007), it can be observed that in the last few years, at least stylistically, the two comic worlds are becoming more and more similar” (Iglesia, 2007:336).

Memasuki tahun 70-an penerbit Les Humanoïdes Associés menerbitkan Euro-comics ber-genre science fiction. Tersebutlah L’Incal (Moebius & Jodorowsky), Exterminateur 17 (Bilal & Dionnet), dan Lone Sloane (Druillet) (Berube, 2008). Tema-tema minoritas mulai muncul di Jerman. Seperti gay genre yang dipelopori Ralf Konig (Harms, 2009). Pun, termasuk kehidupan sehari-hari (social life) bisa jadi tema Euro-comics.

Beda ladang beda belalang, beda di Jerman-Prancis, beda di Inggris. Tahun 1980-an, banyak komikus negeri kerajaan itu justru “kabur” menuju Amerika Serikat. Tujuannya: mencari penghidupan lebih baik dan upah layak sebagai seniman komik. Pasalnya di negara sendiri, komikus tak begitu dihargai. Fenomena “larinya” pekerja komik Inggris ini familiar dinamai “British Invasion” (Iglesia, 2007:336).

Tren 90-an, komik Autobiography mulai muncul di Eropa. Bart Beaty dalam wawancaranya dengan Tim O’Shea menyebutkan, “Autobiography really exploded in Europe at around the same time it did in the U.S. alternative comics scene. Part of the reason is the success of Maus, which really opened the eyes of a lot of people that you could do serious work outside of the normal traditions of comics” (Beaty dalam Tim O’Shea, 2008). Maus adalah adikarya Art Spiegelmann yang mengisahkan pengalaman pahit ayah si komikus sewaktu mendekam di kamp konsentrasi Nazi. Selain itu ada juga Persepolis. Karya Marjane Satrapi itu menceritakan kehidupannya semasa kemelut Revolusi Iran. Di era ini, seniman komik Eropa, “…added a new visual freedom to the extended range of possible topics. They amplified the picture language of comics enormously, sometimes without paying much attention to narrative structures”(Harms, 2009).

Pengaruh Manga ke Euro-comics
Memasuki abad 21 hingga kini, Euro-comics secara massal mengincar tema sejarah, science fiction dan fantasi. Pada masa ini cerita berbau kultur Amerika masih digemari. Contohnya, Les Blondes, Young Ronins, Hero Academy, dan Indian Summer (Pratt & Manara).

Manga Jepang pada tahun-tahun ini turut membombardir pasar Eropa. Komik negeri Matahari Terbit itu ternyata tak butuh waktu lama untuk bisa digemari anak-anak Eropa. Bayangkan, di Jerman saja –lewat penerbit Carlsen Comics- sebanyak 80% penjualan komik didominasi oleh produk manga (Harms, 2009).

Tentu ini membuat para penerbit di Eropa melihat peluang pasar yang besar. Maka, gaya gambar beberapa komikus Eropa pun mengalami “penyesuaian”, kalau tak mau disebut terpaksa. Semua demi roda pasar.
Mata besar, detail pada rupa, helai rambut yang rumit, desain baju yang kompleks, semua mulai meniru manga Jepang. “…many series published by Soleil are visually inspired by Manga” (Berube, 2009). Soleil adalah penerbit komik yang bermarkas di Prancis selatan.

Studi Kasus: Tintin dan Patung Kuping Belah (Tintin – The Broken Ear)
Versi hitam putihnya diterbitkan pertama kali pada tahun 1937 oleh publisher Belgia, Casterman. Enam tahun berikutnya barulah, dengan penerbit sama, dicetak warna dengan revisi editorial di beberapa balon kata.

Di edisi ini, reporter muda Tintin harus menemukan kembali Patung Kuping Belah (The Broken Ear) yang hilang-dicuri dari Museum of Etnography. Ia tak sendirian. Dalam petualangannya tokoh rekaan Herge ini ditemani anjingnya yang selalu setia, Milou (Prancis) atau Snowy (Inggris).

Hilangnya Patung Kuping Belah membuat Tintin harus mengunjungi tempat asal benda bersejarah itu. Yaitu Republik San Theodoros, suatu negara nun di wilayah Amerika Selatan. Selama menginvestigasi, mengumpulkan bukti, tak jarang dia harus menghadapi berbagai halangan dari musuh-musuhnya.

Sindiran terhadap Revolusi Amerika Selatan
Amerika Selatan selalu merupakan studi menarik buat para pemerhati politik atau sejarah. Revolusi, pasukan gerilya, diktator, kudeta, seakan sudah menjadi kata yang maklum dan menempel erat di sana. Tokoh-tokohnya? Siapa tidak kenal Che Guevara, Fidel Castro, Simon Bolivar, Subcomandante Marcos yang hingga kini masih diidolakan pemuda-pemudi “kiri” seluruh dunia. Belum lagi presidennya seperti Raul Castro (Kuba), Hugo Chavez (Venezuela), Evo Morales (Bolivia).

Tintin –The Broken Ear sebagian besar mengambil setting lokasi di negara San Theodoros. Yaitu sebuah negara laten kudeta di mana Jenderal Alcazar dan Jenderal Tapioca saling berebut kekuasaan (Herge, 2007:22). Tintin terpaksa melewati petualangannya dengan menghadapi konflik di negara tersebut.

“Serious political satire aside, Herge’s depiction of Latin American military dictatorship is full of humour” (Farr, 2001:62). Sindiran dan humor terhadap revolusi tampak saat Tintin harus menghadapi barisan regu tembak karena dirinya dituduh sebagai teroris. Regu tembak sudah bersiap menekan pelatuk rifle-nya, tiba-tiba terganggu oleh kedatangan seorang kolonel pembawa pesan. Si kolonel menyampaikan pesan bahwa Jenderal Alcazar telah melakukan revolusi (hal 22, frame 4). Tapi tak berapa lama, pembawa pesan yang lain (juga kolonel) datang, mengklarifikasi laporan kolonel sebelumnya. Yang sebenarnya terjadi adalah Jenderal Alcazar melarikan diri dan pasukannya telah menyerah. Dengan ini, Jenderal Tapioca masih memerintah (hal 22, frame 9-12). Tapi tak beberapa lama di halaman berikutnya (hal 23, frame 15-17) justru terjadi penyerbuan oleh tentara Jenderal Alcazar.

Kudeta terjadi, Alcazar naik tahta. Herge tak menggambarkan kudeta atau revolusi dengan berdarah-darah. Di sini, Herge memilih tidak bersikap terhadap revolusi dan kudeta (entah mendukung-entah menolak). Seperti terepresentasikan dalam tokohnya, Tintin. Meski Tintin sempat meneriakkan “Long Live General Alcazar!” berulang kali (hal 23, frame 13, 14, 16), ia mengucapkannya dalam kondisi mabuk. Tentu saja, orang mabuk tak sadar terhadap apa yang dia alami. Baru setelah kesadarannya pulih (hal. 25, frame 3) dirinya ternyata sudah menjadi kaki tangan Alcazar.

Edward Said, dalam teori sastranya menyebut ini sebagai molestation. Sebuah teks yang tersirat atau tidak, terkadang seakan-akan terpendam, dalam sebuah narasi pokok (Mohamad dalam Joe Sacco, 2008:xxvii).

Lanjutnya, teks ini “eksentrik”, muncul seakan-akan mendadak, mengganggu, terkadang membantah atau membuat parodi terhadap ketakziman cerita; dengan demikian ia menafikan posisi “otoritas” sang Narator sendiri.
Molestation itu berlanjut saat Tintin berencana mundur dari jabatan kolonel (hal 25, frame 4) dan back on track mencari The Broken Ear (Patung Kuping Belah). Tapi yang terjadi adalah inkosistensi Tintin: ia tak jadi mundur (hal 25, frame 8). Dan malah asyik bermain catur dengan pemimpin Alcazar (hal 25, frame 19).

Selain itu pembaca juga bisa melihat Tintin yang cinta damai. Fakta ini muncul saat Tintin berdialog dengan R. W. Trickler, perwakilan perusahaan minyak bumi General American Oil. Trickler akan memberikan 100.000 dolar jika Tintin dan negara San Theodoros mau menganeksasi lahan minyak yang ada di negeri tetangga Nuevo-Rico. Itu berarti perang. Tapi Tintin menolak tawaran itu dan mengusir Trickler (hal 33, frame 9-12).

Fakta lain adalah, seperti seri petualangan Tintin yang lain, cerita Tintin-The Broken Ear terinspirasi dari konflik yang benar-benar terjadi di Amerika Selatan pada era 30-an. “Between 1932 and 1935 a bloody war raged between Bolivia and Paraguay over the potentially oil rich Gran Chaco, claiming nearly 100.000 lives” (Farr, 2001:62). Konflik perebutan ladang minyak ini ternyata didalangi kepentingan kapitalis perusahaan minyak dua negara (Inggris dan AS). British Controlled Oilfields berada di belakang Paraguay. Sementara Standard Oil dari AS menjadi sponsor Bolivia. Tahun 1936 konflik selesai dengan ditekennya perjanjian damai di Buenos Aires, Argentina.

Seperti dijelaskan Michael Farr (2001) para pelaku sejarah tersebut disumirkan Herge –dan ini juga terjadi pada seri Tintin yang lain-. Jelasnya terlihat dalam tabel berikut (Gambar 1).

Pihak yang ikut dalam konflik ladang minyak Gran Chaco
Pihak yang dimaksud dalam komik Tintin – The Broken Ear
Bolivia. Ibukota: La Paz
Republic of San Theodoros. Ibukota: Las Dopicos
Paraguay. Ibukota: Asuncion
Nuevo Rico. Ibukota: Sanfacion
Standard Oil dari AS
General American Oil
British Controlled Oilfields dari Inggris
British-South American Petrol
Sir Basil Zaharoff (Distributor senjata perang)
Basil Bazarov

Gambar 1. Diadaptasi dari Michael Farr, Tintin: The Complete Companion. 2001. Hal 62.
—————————-
Daftar Pustaka

Buku
Bonneff, Marcel. 2008. Komik Indonesia. Jakarta: KPG.
Farr, Michael. 2001. Tintin: The Complete Companion. London: John Murray.
Herge. 2007. Tintin: The Broken Ear di dalam The Adventures of Tintin: Volume 3. London:Egmont.
McCloud, Scott. 2008. Understanding Comics. Jakarta: KPG.
Mohamad, Goenawan. 2008 Kata dan Keadaan di dalam Joe Sacco, Palestina Membara. Bandung: Mizan.

Jurnal
Harms, Jutta. Oktober 2009. Comics in Germany. Berlin.
Iglesia, Martin de la. 2007. Geographical Classification in Comics di dalam International Journal of Comic Art 9, 2. Hal.330-339.
Tanpa nama penulis. 2008. A Very European Hero; Tintin di dalam The Economist Vol. 389, Iss. 8611. Hal. 81.

Internet
Ajidarma, Seno Gumira. 4 Januari 2009. Masalah Ideologi dalam Komik Tintin di dalam SKH Kompas. Alamat URL: http://sukab.wordpress.com/2009/01/04/masalah-ideologi-dalam-komik-tintin/. Tanggal Akses: 21 Maret 2010.
Beaty, Bart. 2008. Unpopular Culture: Transforming The European Comic Book in the 1990s di dalam Tim O’Shea, Bart Beaty: Shining A Bright Light on European Comics. Alamat URL: http://www.comicsbulletin.com/features/117591395470871.htm. Tanggal Akses: 21 Maret 2010.
Berube, Patrick. 15 Agustus 2008. A Guide To European Comic Book Publishers Part 2: Les Humanoïdes Associés. Alamat URL: http://www.comicbookbin.com/european_comic_ book publisher002.html. Tanggal Akses: 21 Maret 2010.
Berube, Patrick. 24 April 2009. A Guide To European Comic Book Publishers Part 4: Soleil Productions. Alamat URL: http://www.comicbookbin.com/ A_guide_to_european_co mic_book_publishers_Soleil_Productions001.html. Tanggal Akses: 21 Maret 2010.
Scott, Randall W (Editor). 8 September 2008. The European Comics Collection Introductory Exhibit. Michigan State University. Alamat URL: http://www.lib.msu.edu /comics/exhibit.htm. Tanggal Akses: 21 Maret 2010.
St-Louis, Herve. 1 Juni 2009. America’s Portrayal in European Comics Books. Alamat URL: http://www.comicbookbin.com/America_Portrayal_European_Comic_Books001.html. Tanggal Akses: 21 Maret 2010.

Bookmark and Share
25
Mar

Bersama Kita Golput

Komisi Pemilihan Umum (KPU) lewat ketuanya, Abdul Hafidz Anshary berbangga hati terhadap tingkat partisipasi masyarakat Indonesia di pemilu 2009 lalu. Pasalnya, sebanyak 70,69% rakyat Nusantara telah menggunakan hak pilihnya di pileg. Sementara di pilpres 73,11% (Press release kpu.go.id, 2010).

Data itu ia tunjukkan di depan seluruh perwakilan KPU Provinsi pada tanggal 28 Januari 2010 silam di Hotel Grand Cisarua, Bogor. Tepatnya di acara bertajuk “Workshop Evaluasi Partisipasi Masyarakat Pemilih dalam Pemilu 2009”. “Ini tentu saja membanggakan, apalagi jika dibandingkan dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu di Amerika Serikat yang ‘hanya’ menyentuh angka 68%,” ujar dia seperti tertulis dalam press release kpu.go.id. Patut kita ikut berbangga?

Anshary lupa, ia melihat pesta demokrasi ini secara fragmentaris pada gelaran pemilu 2009 saja. Dirinya alpa, tingkat partisipasi politik masyarakat Indonesia terhadap pemilu, -khususnya dirunut mulai pemilu 1987- sebenarnya terus menampilkan grafik menurun. Ya, angka “ketidakikutsertaan” alias golput 29,31% pada pileg dan sebesar 26,89% di pilpres 2009 adalah yang terbesar dalam sejarah pemilu Indonesia. Lebih jelasnya, persentase golput dari tahun ke tahun bisa dilihat di tabel berikut (Gambar 1).

Gambar 1. Tabel angka “pemilih” golput dari Pemilu 1955-2004
Sumber: Adaptasi dari M. Fadjroel Rachman. 2009. Merayakan Kemenangan Golput 2009 (SKH Kompas, 14 April 2009).

Mulai 1955-1987, seperti ditunjukkan tabel, terlihat angka “pemilih” golput fluktuatif. Baru memasuki pemilu 1992 hingga kini, jumlah golput terus meningkat. Adapun golput dalam tabel tersebut (Rachman, 2009) dihitung dari pemilih yang tidak datang dan suara tidak sah.

Menanggapi fenomena ini, Jurgen Habermas telah menjelaskan dalam teori tentang civil disobedience (ketidakpatuhan warga). Di mana dalam negara demokrasi yang penghuninya plural dan kompleks, gerakan semacam ini (golput) lumrah adanya.

Keadaan seperti ini (Hardiman, 2009) adalah suatu bentuk protes terhadap kebijakan-kebijakan yang disahkan oleh mayoritas. Mereka tidak ingin menolak konstitusi yang ada dan juga tidak ingin menggantinya dengan konstitusi lain, melainkan mencoba meyakinkan para rekan warganegara mereka yang lain bahwa aturan-aturan politis yang mereka kritik tersebut tidak legitim justru dari sudut pandang asas-asas konstitusi (Hardiman, 2009:164).

Salah satu di antaranya yang pro-golput ini adalah aktivis politik, M. Fadjroel Rachman. Ia bahkan, dalam tulisan opini Merayakan Kemenangan Golput 2009 (SKH Kompas, 14 April 2009) terang-terangan menulis, “Golongan putih adalah hak konstitusional, hak memilih untuk tidak memilih, yang dilindungi UUD 1945 Pasal 28E Ayat 2, Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.”

Lebih jauh ia meyakinkan pembacanya bahwa golput, “merupakan deklarasi perlawanan dan perjuangan yang tecermin dari wajah ganda golput, yaitu konfrontatif dan korektif (SKH Kompas, 14 April 2009).” Fadjroel menganggap penggelembungan dan penggembosan daftar DPT (yang terang tidak legitim menurut UU Pemilu) berkontribusi terhadap jumlah golput membengkak. Dan pihak (causal agent) yang patut bertanggung jawab, menurut dia adalah KPU.

Pertanyaan berikut yang kemudian muncul adalah bagaimana menyikapi fenomena golput yang terus menunjukkan tren menanjak dari pemilu ke pemilu? Apakah hal ini harus dicegah atau tidak? Jika dibiarkan akankah berdampak ke pemilu setelahnya? Seperti Pemilukada 2010, Pemilu 2014?

Tapi sebelum menuju ke pokok permasalahan yang akan dijawab dalam tulisan ini, perlu kiranya untuk mengetahui dan memahami golput itu sendiri. Bagaimana asal-usul terjadinya, dan mengapa golput terjadi.

Golput, Bukan Sebuah Partisipasi Politik?

Ada anggapan awam, tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu sama dengan tidak berpartisipasi. Ini yang musti diluruskan. Dalam tipologi partisipasi politik (Rahman H.I., 2007:288) golongan putih (golput) atau kelompok apatis termasuk ke dalamnya. Di situ golput memiliki definisi sebagai kelompok yang menganggap sistem politik yang ada telah menyimpang dari apa yang dicita-citakan.

Sedangkan Milbrath dan Goel (Rahman H.I., 2007:289) juga memasukkan kelompok apatis ke salah satu dari empat bentuk kegiatan partisipasi politik menurut mereka. Di samping Spektator (orang yang setidak-tidaknya pernah ikut memilih dalam pemilihan umum), Gladiator (Komunikator) dan Pengeritik (dalam bentuk partisipasi yang tidak konvensional). Kelompok apatis di sini punya pengertian, sebagai orang yang akan berpartisipasi dan menarik diri dari proses politik.

Pengamat politik UI, Arbi Sanit dalam wawancaranya dengan MediaIndonesia.com (9 Mei 2009) menjelaskan golput sebagai, “orang-orang yang kecewa, apatis, dan bosan karena tidak ada perubahan yang signifikan dari pergantian penguasa.” Ditambahkan Fadjroel Rachman yang juga ketua organ Pedoman Indonesia, golput adalah salah satu cara melawan ketidakadilan.

Karena merupakan salah satu tipologi partisipasi politik, golput atau apatis hanya ditaruh di posisi paling bawah dari hirarki partisipasi politik (Gambar 2).

Gambar 2.Suatu hirarki partisipasi politik
Sumber: Michael Rush dan Phillip Althoff. 1997. Pengantar Sosiologi Politik. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, Hal. 124)

Dalam hirarki yang ditunjukkan (Gambar 2) partisipasi politik paling aktif dan menduduki posisi puncak adalah menduduki jabatan politik atau administratif. Sementara makin ke bawah tingkat partisipasinya makin kecil.

Dalam beberapa referensi, apatis atau golput tidak termasuk ke dalam hirarki. Seperti dijelaskan Rush dan Althoff (1997), hal ini karena (apatis, golput) tidak dapat dipertimbangkan di dalam pengertian hirarkis. Tapi ia (golput) tetap merupakan partisipasi politik yang, “…tidak perlu merupakan akseptansi (penerimaan) terhadap sistem politik, dan alienasi dapat dinyatakan baik dalam bentuk aktivitas politik, namun ketidakaktifan politik” (Rush dan Althoff, 1997:130).

Lahirnya golput atau apatis bisa muncul dari beragam faktor. Salah satunya datang dari sebab-sebab individual. Orang yang memilih golput atau apatis bisa jadi ingin diakui eksistensinya, bahwa mereka benar-benar ada. Apalagi dengan semakin menanjaknya tren golput di pemilu 2009 lalu yang hampir menginjak angka 30%.

Untuk ini, mereka sebenarnya bersandar kepada Darwinisme. Di mana, “setiap individu harus bertempur melawan yang lain untuk kelangsungan hidup, dan hanya yang paling mampu berhasil”(Duverger, 1993:174). G. Mosca seperti dijelaskan Duverger (1993) menyebut tindakan semacam ini di pertarungan politik sebagai, “perjuangan untuk posisi utama” (struggle for preeminence).

Sementara, persaingan politik yang permanen juga dapat menjadi penyebab timbulnya “pemilih” golput. Di sini menang-kalah diterapkan. Golput lalu diibaratkan sebagai sikap pecundang yang kecewa akibat kalah bertarung melawan sang pemenang. Karena, menurut teori liberal, (Duverger, 1993) hal ini sebagai akibat dari terlalu banyaknya konsumen-konsumen (pemain politik) yang ikut serta, padahal barang-barangnya langka (posisi, kedudukan, jabatan).

Fadjroel Rachman sebelumnya adalah calon presiden independen (non-partai) untuk pilpres 2009 lalu. Namun ia gagal maju karena konstitusi saat itu tak mengijinkan capres independen melenggang. Pun, Gus Dur yang memutuskan golput karena dia kecewa akibat PKB “dipecah-direbut” keponakannya sendiri, Muhaimin Iskandar. Dan ini mengakibatkan dirinya gagal maju mencalonkan diri sebagai presiden di 2009 lalu.

Sebab-sebab golput juga bisa muncul lewat psikologis individu. Sigmund Freud seperti disampaikan Duverger (1993) menjelaskan, antagonisme politik muncul sebagai akibat dari frustrasi psikologis seseorang yang termanifestasikan dalam bentuk lain (golput, apatis, kerusuhan, demo, gugatan terhadap jumlah DPT).

Menurut kaum sosialis, konflik-konflik politik semacam golput ini, “mencerminkan perjuangan-perjuangan antarras, persaingan provinsi-provinsi dan komunitas teritorial lainnya, kompetisi antara kelompok-kelompok yang diorganisir” (Duverger, 1993:206). Atau dengan bahasa Karl Marx (Duverger, 1993) dalam Communist Manifest (1848) “Sejarah setiap masyarakat sampai masa kini adalah semata-mata sejarah perjuangan kelas.” Singkatnya, secara kolektif, fenomena golput dan apatis disebabkan oleh perjuangan antarkelas: golput vis-à-vis partisipan pemilu.

Selain yang telah dikemukakan di atas, Morris Rosenberg (Rush dan Althoff, 1997) dalam Some Determinants of Political Apathy (1954) yang dipublikasikan di Public Opinion Quarterly menyebutkan tiga alasan pokok gejala apati politik.

Pertama, konsekuensi yang ditanggung dari aktifitas politik. Dalam titik ini individu dapat merasa, bahwa aktifitas politik merupakan ancaman terhadap berbagai aspek hidupnya. Kedua, individu dapat menganggap aktifitas politik sebagai sia-sia saja. Yang terakhir, dengan tiadanya perangsang politik maka dapat menambahkan perasaan apati (Rush dan Athoff, 1997).

Menyikapi Golput Lewat Habermas

Melihat tingkat golput dari pemilu ke pemilu yang makin tinggi, kita patut cemas. Bukan tak mungkin pemilu 2014 mendatang, angka-angka itu bakal bertambah. Jika benar kata Fadjroel Rachman ada ketidakadilan pada pemilu 2009 lalu, berarti memang ada yang perlu dibenahi dalam sistem. Hal ini yang kemudian menyebabkan, apa yang disebut Jurgen Habermas sebagai ketidakpatuhan warga (civil disobedience).

Di dalam teori diskursus ketidakpatuhan warga berfungsi sebagai batu uji apakah negara hukum (Indonesia misalnya) yang mengaku demokratis itu cukup mampu belajar untuk menjawab permasalahan-permasalahan moral para warganegaranya di dalam bentuk kebijakan-kebijakan politis konkret. Golput lalu dilihat sebagai sebuah tindakan interpretasi atas konstitusi yang berlaku dalam terang kebutuhan-kebutuhan baru. Jadi ketidakpatuhan warga adalah sebuah gerakan moral, “moral” dalam pengertian Habermas berarti penegakan keadilan (Hardiman, 2009:165).

Lalu jika demokrasi dimengerti sebagai, dalam bahasa Habermas, demokrasi deliberatif, pengambilan keputusan politis harus mengungkap masalah-masalah sosial seinklusif dan seluas mungkin, termasuk persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kelompok minoritas macam golput ini (Hardiman, 2009:165). Di sini pentingnya institusi hukum mengambil peran.

Artinya, di sini masyarakat Indonesia belajar politik. Utamanya belajar dalam menghargai perbedaan. Menghargai yang liyan. Dan bagaimana kepentingan yang liyan itu bisa diakomodasi dalam negara demokrasi yang harus diakui, memang kompleks dan plural ini.

Berikutnya proses sosialisasi politik harus dibenahi. Ini menjadi penting karena sebagai satu kesatuan, partisipasi politik tidak mungkin terjadi tanpa ada sosialisasi politik yang mendahuluinya. Pemerintah lewat KPU, partai politik, dan organisasi massa lainnya harus bisa melakukan sosialisasi politik kepada masyarakat Indonesia sedini mungkin supaya hasilnya bisa maksimal.

Hal ini merupakan bagian dari proses sosialisasi yang berkesinambungan, serta merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi partisipasinya di kemudian hari. Selanjutnya individu itu jelas tidak dihadapkan pada gejala sosial dan politik yang tidak berubah, karena peristiwa tadi mengalami perubahan dalam hal permasalahan personal dan waktu –sampai pada keunikan dari suatu peristiwa politik tertentu (Rush dan Althoff, 1997:182).

Kesimpulan dan Saran

Tak bisa dipungkiri, golput menjadi fenomena yang patut diperhitungkan dalam praktik demokrasi di negara ini. Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga, setelah AS dan India, golput di Indonesia lahir bukan tanpa sebab. Ia muncul dari beragam faktor-faktor, seperti sebab-sebab individu, psikologis dan sebab kolektif.

Sejak pemilu diadakan pertama kali, yaitu 1955, setidaknya telah sepuluh kali rakyat Nusantara menyelenggarakan pesta demokrasi itu. Telah sepuluh kali pula, data statistik memperlihatkan angka “pemilih” golput yang terus menanjak. Apalagi pada pemilu baru-baru ini, golput terjadi sebanyak 29,31% pada pileg dan sebesar 26,89% di pilpres 2009.

Di sini para pemangku kebijakan khususnya pemerintah patut berbenah. Sikap ketua KPU Abdul Hafidz Anshary yang berbangga hati mengklaim keberhasilan pemilu 2009 tak boleh lantas lupa diri. Karena di atas langit masih ada langit, di atas KPU masih ada otoritas tertinggi, yaitu pemerintahan rakyat.

Suara “pemilih” golput jangan terus diabaikan. Merangkul minoritas dalam hal ini adalah lumrah dalam negara demokrasi yang berlandaskan hukum. Seperti kata Habermas, kasus ini setidaknya menjadi batu uji buat Indonesia yang mengaku demokratis dalam menjawab permasalahan-permasalahan moral warganya di dalam bentuk kebijakan politis konkret. Di sini pemerintah lewat agen-agennya perlu lebih sering mendengar apa keluhan para “pemilih” golput. Dengan jalan non-represif seperti ini, niscaya angka golput pada pemilu berikutnya akan terminimalisasi.

Hal tersebut tidak cukup tanpa didukung proses sosialisasi politik yang berkelanjutan. Pendidikan politik harus terus ditanamkan sejak dini. Jangan hanya ramai jelang pemilu kurang dari setahun. Di sini agen-agen yang berkait (partai politik, KPU, pemerintah, media massa) perlu menghidupkan kembali turun ke bawah alias Turba. Sebuah praktik yang diterapkan Lembaga Kebudayaan Rakyat pada Orde Lama. Dan itu terbukti jitu.

Tentunya praktik itu harus dilakukan sesuai dengan itikad baik. Tidak asal sikut kanan-sikut kiri dari para partisipan politik. Plus menghindari jalan kekerasan sebagai alternatif pemecahan. Karena persoalan politik sejatinya adalah persoalan komunikasi antarpihak yang berkonflik. Dan, seperti kata Habermas, persoalan komunikasi hanya dapat diatasi dengan dengan komunikasi (Hardiman, 2009:166).

Daftar Pustaka

Buku
Duverger, Maurice. 1993. Sosiologi Politik. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Hardiman, F. Budi. 2009. Demokrasi Delberatif: Menimbang ‘Negara Hukum’ dan ‘Ruang Publik’ dalam Teori Diskursus Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius.
Rahman H.I, A. 2007. Sistem Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Rush, Michael dan Philip Althoff. 1997. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Internet

Hutasoit, Kennorton. 9 Mei 2009. Golput Mencapai 40,31 Persen Pemilih. http://www.mediaindonesia.com/read/2009/05/05/73832/3/1/Golput-Mencapai-4031-Persen-Pemilih. Tanggal akses: 18 Maret 2010.
Rachman, M. Fadjroel. 14 April 2009. Merayakan Kemenangan Golput 2009. http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/14/02573160/merayakan.kemenangan.golput.2009. Tanggal akses: 18 Maret 2010.
Tanpa nama penulis. 2 Februari 2010. KPU Evaluasi Partisipasi Dalam Pemilu 2009. http://www.kpu.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=6310&Itemid=68. Tanggal akses: 18 Maret 2010.

Bookmark and Share
04
Mar

Carut-Marut Perpustakaan

Cerita bermula dari notes di situs pertemanan Facebook. Ining Isaias, nama penulis catatan singkat itu –mahasiswa Sosiologi angkatan 2006 FISIP UAJY-. Melalui tulisannya, dia berhasil ”memprovokasi” beberapa kawan, dan bahkan organ kemahasiswaan untuk turun tangan.

–Oleh Hendy Adhitya, Vidi Istanto, Xaverius Cornelissen S

Ia menulis dengan kalimat awal, ”Hampir satu tahun saya menyimpan tulisan ini dan datanglah momen itu: perpustakaan tutup 1-19 Februari 2010.”Perpustakaan yang dimaksud Ining ialah perpustakaan yang berada di gedung seberang barat kampus FISIP, Thomas Aquinas.

Tak cuma di Thomas Aquinas, perpustakaan di gedung Bonaventura juga tutup. Ini disebabkan kebijakan universitas yang menyebutkan penutupan keduanya dalam rangka pindahan ke gedung Perpustakaan Terpadu di Babarsari. Cuma perpustakaan di gedung Alfonsus, Mrican yang tak tutup. Karena jika ikut pindahan, akses akademisi UAJY yang ada di Mrican untuk menuju Babarsari dianggap terlalu jauh.

Akibatnya, bagi sebagian mahasiswa, penutupan selama tiga pekan ini sangat merugikan. Khususnya bagi mahasiswa tingkat akhir yang menggarap skripsi. Mereka kesulitan mencari buku dan referensi saat perpustakaan tutup.

Ining juga mempermasalahkan hal lain. Ia melihat tutupnya perpustakaan berarti melanggar kultur akademik yang diusung lembaga pendidikan seperti UAJY. ”Artinya, orang (UAJY-pen) gak mengakui bahwa yang sebenarnya merupakan sumber pertama ilmu ya di buku itu,” cecar dia. Di sini ia kemudian mengutip John Milton dalam Aeropagitica bunyinya, As good almost kill a man as kill a good book; who kills a man kills a reasonable creature, God’s image; but he who destroys a good book, kills reason itself, kills the image of God, as it were, in the eye.”

Maka dengan alasan melanggar kultur akademik itulah, seharusnya akademia UAJY terusik. ”Ya, harapanku waktu menulis notes di Facebook itu adalah, apakah teman-teman merasa senasib dengan saya mari bersuara bersama lewat apalah,” ujar dia saat kami wawancarai.

Sejak Ining mem-publish tulisannya di Facebook 2 Februari 2010, 29 komentar (per 20 Februari 2010) bersahut-sahutan menghiasi notes ”provokatif”-nya itu. Hampir semua penanggap memberi jawaban kontra terhadap tutupnya perpustakaan.

Pertemuan di Rektorat

BEM FISIP UAJY tak tinggal diam. Presiden BEM FISIP, Aring Sulistyo langsung merapatkan masalah ini dengan kabinetnya. Dalam pertemuan 4 Februari 2010 BEM FISIP UAJY mengajak HMPS Komunikasi , HMPS Sosiologi, Senat Ekonomi dan HIMA Arsitek membahas problem ini bersama.

”Mulanya fakultas lain sempat curiga, apa isu ini hanya kepentingannya FISIP, tapi saya bisa menjelaskan alasannya,” kata Aring. Akhirnya, pada rapat itu semua pihak yang akan diajak ”koalisi” bersepakat: tutupnya perpustakaan menyangkut kepentingan studi semua mahasiswa.

Rapat tersebut menghasilkan dua tuntutan;

  1. Meminta supaya Perpustakaan Terpadu dibuka secepatnya, jangan sampai deadline (tanggal 19 Februari 2010) dan,
  2. Bila proses perpindahan sudah selesai, meminta pelayanan perpustakaan ditambah (tidak hanya sampai pukul 15.00).

Sebagai inisiator, BEM FISIP lalu menghubungi Rektor UAJY, Koesmargono. Tujuannya meminta dengan segera untuk mengadakan pertemuan terkait masalah ”rehatnya” perpustakaan tiga pekan. Permintaan bertemu direstui.

Senin, 8 Februari 2010 atau sepekan setelah perpustakaan menjalani masa ”rehatnya”, rapat bipartit itu digelar. Persamuhan antara perwakilan lembaga kemahasiswaan dan pihak universitas (rektorat dan perpustakaan) diselenggarakan di ruang Rektorat, Thomas Aquinas.

Rapat jam dua siang itu dihadiri Rektor, Koesmargono; Wakil Rektor, Hestu; Kepala Perpustakaan, Jon. Sementara pihak mahasiswa diwakili delapan orang. Mereka: BEM FISIP (dua orang), HMPS Komunikasi (satu orang), HMPS Sosiologi (dua orang), dan Senat Ekonomi (tiga orang).

Dalam rapat, para perwakilan mahasiswa ini mempertanyakan ihwal proses perpindahan perpustakaan yang tidak dilakukan saat liburan semester lalu. Karena, seperti yang terjadi saat ini, perpindahan yang mengorbankan tutupnya perpustakaan dirasa mengganggu beberapa mahasiswa.

”Kepala Perpustakaan menjelaskan alasannya karena masalah teknis. Beliau mengatakan bahwa proses perpindahan perpustakaan rencananya dilakukan pada saat liburan Desember-Januari lalu. Tapi menjadi mundur karena Air Conditioner(AC) belum sempat dipasang,” kata Aring yang hadir waktu itu. Pihak perpustakaan tak berani, jika AC belum dipasang akan menyebabkan buku-buku yang menumpuk jadi lembab. Akhirnya, AC baru selesai dipasang pada akhir Januari silam. Inilah yang menyebabkan mundurnya agenda pindahan perpustakaan.

Pihak rektorat dan perpustakaan dalam hal ini mengaku salah menerapkan strategi menutup perpustakaan di minggu-minggu awal perkuliahan. Mereka menyangka dosen tak akan memberikan tugas-tugas untuk mencari referensi di perpustakaan saat perkuliahan dimulai.

Pertemuan selama kurang lebih dua jam itu lalu menghasilkan beberapa tuntutan (assertions) dan solusi (Cooperation problemsolving) antara lain;

  1. Supaya perpustakaan dibuka secepatnya, bahkan sebelum deadline yang sudah direncanakan
  2. Pihak rektorat dan perpustakaan supaya meminta maaf kepada mahasiswa
  3. Adanya dispensasi untuk meminjam dan mengembalikan buku bagi mahasiswa yang sedang melakukan skripsi dan,
  4. Universitas memberi mahasiswa surat pengantar untuk meminjam buku di perpustakaan universitas lain.

Pasca Pertemuan

Sehari setelahnya, pihak rektorat langsung mengeluarkan surat yang berisi permintaan maaf atas permasalahan tersebut. Surat ditempel di masing-masing fakultas. Namun dalam surat tersebut tidak dibahas atau dicantumkan tuntutan mahasiswa mengenai poin tiga dan empat.

Meski mundur tiga hari dari rencana awal, pada 22 Februari 2010 Perpustakaan Terpadu akhirnya buka juga.

Penyelesaian Konflik Perpustakaan

Seperti dijelaskan Deustch (2006), konflik bisa terjadi karena adanya hubungan interdependensi asimetris antarpihak yang bertikai. Lebih jauh ia menjelaskan, if they are completely independent of one another, no conflict arises; the existence of a conflict implies some form of interdependence” (Deustch, 2006:25).

Pihak rektorat sebagai pemutus kebijakan perpustakaan tutup (independent), tentunya memiliki kekuatan dan pengaruh besar terhadap kehidupan akademik mahasiswa. Keadaan asimetris ini membuat mahasiswa masuk dalam kategori, highly dependent (Deustch dkk, 2006:25). Sebelum keluar notes Ining per 2 Februari 2010, mahasiswa terbukti cenderung tak mempermasalahkan dan pasrah.

Concern for Self

Concern for Others

Low

High

High

Aggresion

Cooperation

Low

Withdrawal

Capitulation

Source: Handbook of Conflict Analysis and Resolution (2009)

”Stable peace requires more than just ceasefires and formal cessation of warfare; it is thought to require reorientation of perceptions so that the parties stop seeing each other as unremitting threats and enemies” (Pearson and Lounsbery, 2009:72). Dalam konflik tutupnya perpustakaan ini, kedua pihak (mahasiswa-rektorat) memilih jalan untuk melakukan pertemuan. Intinya untuk mengetahui apa kesulitan dan problem dari keduanya.

Berdasarkan tabel Hauss (2001), semakin tinggi pihak yang bertikai untuk mau mengerti kebutuhan terhadap liyan (concern for others), maka kondisi mula confrontation-capitulation akan berganti menjadi cooperation problemsolving (Pearson and Lounsbery, 2009:72). Artinya dari pertemuan 8 Februari silam di Rektorat, mahasiswa-rektorat memilih untuk mencari jalan keluar (cooperation) terhadap masalah tutupnya perpustakaan. Meski realisasi dari tuntutan (assertions) pihak mahasiswa tidak maksimal terpenuhi.

Referensi

Deustch, Morton dkk. (Editor). 2006. The Handbook of Conflict Resolution: Theory and Practice Second Edition. San Fransisco: Jossey-Bass.

Sandole, Dennis J.D dkk. (Editor). 2009. Handbook of Conflict Analysis and Resolution. New York: Routledge.

Bookmark and Share



INDOPTC

RSS Top News dari Reuters

  • Obama to propose permanent research tax credit September 5, 2010
    WASHINGTON (Reuters) - President Barack Obama will ask the Congress on Wednesday to increase and permanently extend a tax credit for business research as a way of boosting job growth, an administration officials said on Sunday.

RSS Berita Dalam Negeri dari Detik.com

  • PPP Minta Pembangunan Gedung Baru DPR Dibatalkan September 5, 2010
    Satu demi satu fraksi di DPR meminta pembangunan gedung baru DPR ditunda. Kritik masyarakat yang kian keras terhadap fasilitas mewah wakil rakyat membuat PPP ingin pembangunan gedung setinggi 36 lantai tersebut dibatalkan saja.

RSS Berita Olah Raga Internasional dari Skysports