Terma “comic” tidak dikenal luas di Eropa utamanya di luar negara-negara Anglophone (negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu). Prancis misalnya memakai istilah bande desinee yang memiliki arti sama dengan komik bersambung yang dimuat dalam surat kabar (Bonneff, 2008:9).
Bahkan Jerman dan Spanyol (Iglesia, 2007) menyerap sebutan “comic” dari bahasa Inggris-Amerika –yang memang merupakan asal-usul kata itu-. Karena bahasa ibu kedua negara tersebut tak memiliki istilah yang pas untuk menyebutnya.
Komik Eropa atau biasa dikenal Euro-comics bermula sejak penemuan gambar-gambar kuno di Gua Lascaux dan Permadani Bayeux (1066). Keduanya bisa ditemui di Prancis. Namun peneliti Marcel Bonneff justru enggan terburu-buru menyebut kedua penemuan itu sebagai bentuk arkais dari komik (Bonneff, 2008:16).
Dari Tiga Maestro sampai ke Boy-scout Hero
Setidaknya ada tiga nama yang dianggap sebagai peletak dasar Euro-comics. Mereka adalah Rudolph Toppfer (1799-1846) dari Swiss, Wilhem Busch (1832-1908) yang asli Jerman dan Emmanuel Poire (1859-1909) asal Prancis. Toppfer bahkan dilabeli sebagai bapak komik modern (McCloud, 2008) dan patron saint oleh maestro komik Art Spiegelmann (Michigan, 2008).
Yang menarik adalah kemunculan Euro-comics dipengaruhi comic-strips Amerika Serikat. Wilhem Busch mengaku komik strip buatannya, Max und Moritz terinspirasi dari cartoon strips Katzenjammer Kids milik Rudolph Dirks –juga orang Jerman- di majalah AS, The New York Journal pada tahun 1897. Meski saat itu orang Jerman terbukti punya sumbangsih besar bagi perkomikan dunia, komik tak begitu populer di sana (Harms, 2009).
1929. Tintin di Tanah Soviet karya Herge (Georges Remi) terbit di Le Petit Vingtieme, di halaman suplemen kanak-kanak mingguan Vingtieme Sicle di Belgia (Ajidarma, 2009). Diikuti komik cowboy classic terkenal, Lucky Luke ciptaan Maurice de Bevere (Morris) yang luncur perdana tahun 1946.
Cemas dengan kemungkinan masuknya budaya Amerika yang liberal dan komunis Rusia, Prancis pada tahun 1949 membuat undang-undang yang membatasi peredaran buku dan komik strip bagi warganya. Isinya melarang komik dan bacaan anak-anak yang menggambarkan kemalasan, kebohongan, kejahatan, kebencian, kejelekan, seks, dan segalanya yang masuk klasifikasi “tidak bermoral” (The Economist, 2008:81).
Sementara pada tahun 1950, peraturan larangan bertambah lagi. Yaitu mengharamkan, “…odd alliance of Communists, Catholic conservatives and jobless French cartoonists, determined that French children should be reading works imbued with ‘national’ values”(The Economist, 2008:81). Pada tahun yang sama, di Jerman terjadi gerakan Anti-komik (Harms, 2009). Sementara di Inggris, komik strip Dan Dare yang ber-genre science fiction terbit di mingguan Eagle.
Dampak aturan itu, komik seperti Tintin mau tak mau harus mengikuti “aturan moral” yang diminta Prancis. Meski Tintin berasal dari Belgia. Produk hukum itu juga “menyarankan” komik pahlawan ideal adalah yang memiliki, “…an overgrown boy scout, whose adventures involve pluck, fair play, restrained violence and no sex” (The Economist, 2008:81). Maka inilah yang akhirnya ikut membentuk karakter a la pramuka yang kelewat matang pada diri Tintin (Ajidarma, 2009).
Bahkan karakter Tintin yang khas itu sebisa mungkin tidak boleh diubah. Tidak heran Fanny, janda Remi sempat merasa khawatir jika Hollywood jadi menggarap Tintin ke layar lebar –rencana 2011 akan tayang-. Sifat yang “sangat Eropa” dari reporter berjambul itu, prediksinya bakal dipermak habis-habisan. Karena menurut dia, “The American style of telling a story threatens that European ‘sensibility’ “ (The Economist, 2008:81). Naratif Amerika disebutnya sangat dinamik, tetapi lebih mengandung kekerasan dan kecepatannya jauh lebih agresif (Ajidarma, 2009).
Munculnya Franco-Belgian dan Potret Amerika dalam Euro-comics
Memasuki tahun 1960-an setidaknya ada dua gerakan besar di dunia Euro-comics. Pertama, hubungan erat Prancis-Belgia dalam dunia perkomikan akhirnya melahirkan satu tradisi budaya komik Franco-Belgian (Iglesia, 2007:333-334). Di antaranya yang termasuk: Tintin (Herge), Lucky Luke (Morris), Asterix the Gaul (Gozcinny & Uderzo), Smurf (Peyo), Spirou (Jije & Franquin), dan Blueberry (Moebius).
Kedua, pasca-Perang Dunia Ke II banyak kartunis Eropa melanggar pakem Euro-comics. “These artists reject both the traditional form and content of comic books (hardcover, full-colour ‘albums’ of humour or adventure stories, generally geared towards children), seeking instead to instill the medium with experimental and avant-garde tendencies commonly associated with the visual arts” (Beaty dalam Tim O’Shea, 2008). Pemikiran ini tidak lepas dari pengaruh Amerika Serikat.
Hal ini terlihat pada Euro-comics Blueberry (Moebius) dan Lucky Luke (Morris). Keduanya berkisah hal yang sama: kehidupan koboi di Amerika Serikat. Begitu juga di Jerman. “Many German comic series of the post-war period seemed rather old-fashioned and frumpy compared to comics from the USA, whose super heroes had sometimes been hardened in battle against the Nazis” (Harms, 2009). Pada tahun 60-an, gerakan komik bawah tanah (underground comics) mulai bermunculan di Eropa. Hal yang sama juga sedang terjadi di Amerika.
Melihat pengaruh ini, Herve St-Louis (2009) mengibaratkan hubungan Eropa-Amerika semacam benci tapi cinta (love-hate relationship). Di satu kesempatan mereka menolak total pengaruh Amerika –seperti yang Prancis dan Jerman lakukan pada tahun 50-an dalam upaya membendung pengaruh AS-, tapi di sisi lain mereka iri dengan AS yang begitu liberal, begitu bebas. Amerika bisa dikatakan European’s dreams.
Hubungan “absurd” itu yang akhirnya menyebabkan dunia komik dua benua itu semakin mirip. Seperti dikatakan Scott McCloud (2008), seni dan kesusastraan tradisional Barat (Eropa-Amerika) memiliki kecenderungan budaya yang terpaku pada tujuan akhir. Tak cuma itu bahkan, “European and the North American comic cultures, primarily concerning disparities in format and the market (e.g., most recently, Beaty, 2007), it can be observed that in the last few years, at least stylistically, the two comic worlds are becoming more and more similar” (Iglesia, 2007:336).
Memasuki tahun 70-an penerbit Les Humanoïdes Associés menerbitkan Euro-comics ber-genre science fiction. Tersebutlah L’Incal (Moebius & Jodorowsky), Exterminateur 17 (Bilal & Dionnet), dan Lone Sloane (Druillet) (Berube, 2008). Tema-tema minoritas mulai muncul di Jerman. Seperti gay genre yang dipelopori Ralf Konig (Harms, 2009). Pun, termasuk kehidupan sehari-hari (social life) bisa jadi tema Euro-comics.
Beda ladang beda belalang, beda di Jerman-Prancis, beda di Inggris. Tahun 1980-an, banyak komikus negeri kerajaan itu justru “kabur” menuju Amerika Serikat. Tujuannya: mencari penghidupan lebih baik dan upah layak sebagai seniman komik. Pasalnya di negara sendiri, komikus tak begitu dihargai. Fenomena “larinya” pekerja komik Inggris ini familiar dinamai “British Invasion” (Iglesia, 2007:336).
Tren 90-an, komik Autobiography mulai muncul di Eropa. Bart Beaty dalam wawancaranya dengan Tim O’Shea menyebutkan, “Autobiography really exploded in Europe at around the same time it did in the U.S. alternative comics scene. Part of the reason is the success of Maus, which really opened the eyes of a lot of people that you could do serious work outside of the normal traditions of comics” (Beaty dalam Tim O’Shea, 2008). Maus adalah adikarya Art Spiegelmann yang mengisahkan pengalaman pahit ayah si komikus sewaktu mendekam di kamp konsentrasi Nazi. Selain itu ada juga Persepolis. Karya Marjane Satrapi itu menceritakan kehidupannya semasa kemelut Revolusi Iran. Di era ini, seniman komik Eropa, “…added a new visual freedom to the extended range of possible topics. They amplified the picture language of comics enormously, sometimes without paying much attention to narrative structures”(Harms, 2009).
Pengaruh Manga ke Euro-comics
Memasuki abad 21 hingga kini, Euro-comics secara massal mengincar tema sejarah, science fiction dan fantasi. Pada masa ini cerita berbau kultur Amerika masih digemari. Contohnya, Les Blondes, Young Ronins, Hero Academy, dan Indian Summer (Pratt & Manara).
Manga Jepang pada tahun-tahun ini turut membombardir pasar Eropa. Komik negeri Matahari Terbit itu ternyata tak butuh waktu lama untuk bisa digemari anak-anak Eropa. Bayangkan, di Jerman saja –lewat penerbit Carlsen Comics- sebanyak 80% penjualan komik didominasi oleh produk manga (Harms, 2009).
Tentu ini membuat para penerbit di Eropa melihat peluang pasar yang besar. Maka, gaya gambar beberapa komikus Eropa pun mengalami “penyesuaian”, kalau tak mau disebut terpaksa. Semua demi roda pasar.
Mata besar, detail pada rupa, helai rambut yang rumit, desain baju yang kompleks, semua mulai meniru manga Jepang. “…many series published by Soleil are visually inspired by Manga” (Berube, 2009). Soleil adalah penerbit komik yang bermarkas di Prancis selatan.
Studi Kasus: Tintin dan Patung Kuping Belah (Tintin – The Broken Ear)
Versi hitam putihnya diterbitkan pertama kali pada tahun 1937 oleh publisher Belgia, Casterman. Enam tahun berikutnya barulah, dengan penerbit sama, dicetak warna dengan revisi editorial di beberapa balon kata.
Di edisi ini, reporter muda Tintin harus menemukan kembali Patung Kuping Belah (The Broken Ear) yang hilang-dicuri dari Museum of Etnography. Ia tak sendirian. Dalam petualangannya tokoh rekaan Herge ini ditemani anjingnya yang selalu setia, Milou (Prancis) atau Snowy (Inggris).
Hilangnya Patung Kuping Belah membuat Tintin harus mengunjungi tempat asal benda bersejarah itu. Yaitu Republik San Theodoros, suatu negara nun di wilayah Amerika Selatan. Selama menginvestigasi, mengumpulkan bukti, tak jarang dia harus menghadapi berbagai halangan dari musuh-musuhnya.
Sindiran terhadap Revolusi Amerika Selatan
Amerika Selatan selalu merupakan studi menarik buat para pemerhati politik atau sejarah. Revolusi, pasukan gerilya, diktator, kudeta, seakan sudah menjadi kata yang maklum dan menempel erat di sana. Tokoh-tokohnya? Siapa tidak kenal Che Guevara, Fidel Castro, Simon Bolivar, Subcomandante Marcos yang hingga kini masih diidolakan pemuda-pemudi “kiri” seluruh dunia. Belum lagi presidennya seperti Raul Castro (Kuba), Hugo Chavez (Venezuela), Evo Morales (Bolivia).
Tintin –The Broken Ear sebagian besar mengambil setting lokasi di negara San Theodoros. Yaitu sebuah negara laten kudeta di mana Jenderal Alcazar dan Jenderal Tapioca saling berebut kekuasaan (Herge, 2007:22). Tintin terpaksa melewati petualangannya dengan menghadapi konflik di negara tersebut.
“Serious political satire aside, Herge’s depiction of Latin American military dictatorship is full of humour” (Farr, 2001:62). Sindiran dan humor terhadap revolusi tampak saat Tintin harus menghadapi barisan regu tembak karena dirinya dituduh sebagai teroris. Regu tembak sudah bersiap menekan pelatuk rifle-nya, tiba-tiba terganggu oleh kedatangan seorang kolonel pembawa pesan. Si kolonel menyampaikan pesan bahwa Jenderal Alcazar telah melakukan revolusi (hal 22, frame 4). Tapi tak berapa lama, pembawa pesan yang lain (juga kolonel) datang, mengklarifikasi laporan kolonel sebelumnya. Yang sebenarnya terjadi adalah Jenderal Alcazar melarikan diri dan pasukannya telah menyerah. Dengan ini, Jenderal Tapioca masih memerintah (hal 22, frame 9-12). Tapi tak beberapa lama di halaman berikutnya (hal 23, frame 15-17) justru terjadi penyerbuan oleh tentara Jenderal Alcazar.
Kudeta terjadi, Alcazar naik tahta. Herge tak menggambarkan kudeta atau revolusi dengan berdarah-darah. Di sini, Herge memilih tidak bersikap terhadap revolusi dan kudeta (entah mendukung-entah menolak). Seperti terepresentasikan dalam tokohnya, Tintin. Meski Tintin sempat meneriakkan “Long Live General Alcazar!” berulang kali (hal 23, frame 13, 14, 16), ia mengucapkannya dalam kondisi mabuk. Tentu saja, orang mabuk tak sadar terhadap apa yang dia alami. Baru setelah kesadarannya pulih (hal. 25, frame 3) dirinya ternyata sudah menjadi kaki tangan Alcazar.
Edward Said, dalam teori sastranya menyebut ini sebagai molestation. Sebuah teks yang tersirat atau tidak, terkadang seakan-akan terpendam, dalam sebuah narasi pokok (Mohamad dalam Joe Sacco, 2008:xxvii).
Lanjutnya, teks ini “eksentrik”, muncul seakan-akan mendadak, mengganggu, terkadang membantah atau membuat parodi terhadap ketakziman cerita; dengan demikian ia menafikan posisi “otoritas” sang Narator sendiri.
Molestation itu berlanjut saat Tintin berencana mundur dari jabatan kolonel (hal 25, frame 4) dan back on track mencari The Broken Ear (Patung Kuping Belah). Tapi yang terjadi adalah inkosistensi Tintin: ia tak jadi mundur (hal 25, frame 8). Dan malah asyik bermain catur dengan pemimpin Alcazar (hal 25, frame 19).
Selain itu pembaca juga bisa melihat Tintin yang cinta damai. Fakta ini muncul saat Tintin berdialog dengan R. W. Trickler, perwakilan perusahaan minyak bumi General American Oil. Trickler akan memberikan 100.000 dolar jika Tintin dan negara San Theodoros mau menganeksasi lahan minyak yang ada di negeri tetangga Nuevo-Rico. Itu berarti perang. Tapi Tintin menolak tawaran itu dan mengusir Trickler (hal 33, frame 9-12).
Fakta lain adalah, seperti seri petualangan Tintin yang lain, cerita Tintin-The Broken Ear terinspirasi dari konflik yang benar-benar terjadi di Amerika Selatan pada era 30-an. “Between 1932 and 1935 a bloody war raged between Bolivia and Paraguay over the potentially oil rich Gran Chaco, claiming nearly 100.000 lives” (Farr, 2001:62). Konflik perebutan ladang minyak ini ternyata didalangi kepentingan kapitalis perusahaan minyak dua negara (Inggris dan AS). British Controlled Oilfields berada di belakang Paraguay. Sementara Standard Oil dari AS menjadi sponsor Bolivia. Tahun 1936 konflik selesai dengan ditekennya perjanjian damai di Buenos Aires, Argentina.
Seperti dijelaskan Michael Farr (2001) para pelaku sejarah tersebut disumirkan Herge –dan ini juga terjadi pada seri Tintin yang lain-. Jelasnya terlihat dalam tabel berikut (Gambar 1).
|
Pihak yang ikut dalam konflik ladang minyak Gran Chaco
|
Pihak yang dimaksud dalam komik Tintin – The Broken Ear
|
|
Bolivia. Ibukota: La Paz
|
Republic of San Theodoros. Ibukota: Las Dopicos
|
|
Paraguay. Ibukota: Asuncion
|
Nuevo Rico. Ibukota: Sanfacion
|
|
Standard Oil dari AS
|
General American Oil
|
|
British Controlled Oilfields dari Inggris
|
British-South American Petrol
|
|
Sir Basil Zaharoff (Distributor senjata perang)
|
Basil Bazarov
|
Gambar 1. Diadaptasi dari Michael Farr, Tintin: The Complete Companion. 2001. Hal 62.
—————————-
Daftar Pustaka
Buku
Bonneff, Marcel. 2008. Komik Indonesia. Jakarta: KPG.
Farr, Michael. 2001. Tintin: The Complete Companion. London: John Murray.
Herge. 2007. Tintin: The Broken Ear di dalam The Adventures of Tintin: Volume 3. London:Egmont.
McCloud, Scott. 2008. Understanding Comics. Jakarta: KPG.
Mohamad, Goenawan. 2008 Kata dan Keadaan di dalam Joe Sacco, Palestina Membara. Bandung: Mizan.
Jurnal
Harms, Jutta. Oktober 2009. Comics in Germany. Berlin.
Iglesia, Martin de la. 2007. Geographical Classification in Comics di dalam International Journal of Comic Art 9, 2. Hal.330-339.
Tanpa nama penulis. 2008. A Very European Hero; Tintin di dalam The Economist Vol. 389, Iss. 8611. Hal. 81.
Internet
Ajidarma, Seno Gumira. 4 Januari 2009. Masalah Ideologi dalam Komik Tintin di dalam SKH Kompas. Alamat URL: http://sukab.wordpress.com/2009/01/04/masalah-ideologi-dalam-komik-tintin/. Tanggal Akses: 21 Maret 2010.
Beaty, Bart. 2008. Unpopular Culture: Transforming The European Comic Book in the 1990s di dalam Tim O’Shea, Bart Beaty: Shining A Bright Light on European Comics. Alamat URL: http://www.comicsbulletin.com/features/117591395470871.htm. Tanggal Akses: 21 Maret 2010.
Berube, Patrick. 15 Agustus 2008. A Guide To European Comic Book Publishers Part 2: Les Humanoïdes Associés. Alamat URL: http://www.comicbookbin.com/european_comic_ book publisher002.html. Tanggal Akses: 21 Maret 2010.
Berube, Patrick. 24 April 2009. A Guide To European Comic Book Publishers Part 4: Soleil Productions. Alamat URL: http://www.comicbookbin.com/ A_guide_to_european_co mic_book_publishers_Soleil_Productions001.html. Tanggal Akses: 21 Maret 2010.
Scott, Randall W (Editor). 8 September 2008. The European Comics Collection Introductory Exhibit. Michigan State University. Alamat URL: http://www.lib.msu.edu /comics/exhibit.htm. Tanggal Akses: 21 Maret 2010.
St-Louis, Herve. 1 Juni 2009. America’s Portrayal in European Comics Books. Alamat URL: http://www.comicbookbin.com/America_Portrayal_European_Comic_Books001.html. Tanggal Akses: 21 Maret 2010.
